IPNU Kampus; Ditengah Pencarian Peran dan Identitas

Apa arti sebuah nama; slogan ini kerap kali terdengar dan sesering itu pula berlalu begitu saja tanpa menyisakan pengaruh yang berarti. Namun tidak begitu halnya dengan keberadaan IPNU—dalam tulisan ini sering menggunakan kata “IPNU” yang juga mencakup IPPNU—di lingkungan perguruan tinggi. Sampai saat ini masih saja muncul pertanyaan yang mengusik tentang nama pelajar dalam kepanjangan IPNU, padahal berada di lingkungan kampus yang sudah menyandang predikat “mahasiswa”?! Maka dalam tulisan ini akan diurai eksistensi IPNU kampus serta gagasan upaya pemberdayaan kader dengan basis mahasiswa. Sehingga tidak menimbulkan ambiguitas dalam memahami nama serta arah roda organisasi. Namun sebelum jauh berbincang tema di atas, akan dipaparkan sekilas sejarah atau cikal bakal berdirinya IPNU secara global.

Semenjak awal pendiriannya pada tanggal 24 Pebruari 1954 di Malang, Ikatan Peladjar Nahdlatul Ulama (IPNU) lahir sebagai organisasi yang menjadi wadah pemersatu potensi pelajar, santri, dan mahasiswa. Embrio kelahirannya adalah berbagai organisasi atau asosiasi pelajar dan santri NU yang masih  bersifat lokal dan parsial, seperti Tsamrotoel Moestafidin (1936) dan Persatoean Santri NO (PERSANO) pada tahun 1939 di Surabaya, Persatoean Moerid NO (PAMNO) pada tahun 1941 dan Ikatan Moerid NO (IMNO) pada tahun 1945, Idjtimâ’ut Tholabah (1945) di Madura, Idjtimâ’ut Tholabah NO (ITNO) di Sumbawa pada tahun 1946, Persatoean Pelajar NO (PERPENO) tahun 1953 di Kediri, serta Ikatan Peladjar NO (IPENO) di Medan tahun 1954.

Pada perjalanan berikutnya, IPNU yang masih berorientasi pada kaum santri dan pelajar—sementara banyak anak-anak NU yang mampu menempuh pendidikan di perguruan tinggi—kemudian membuka diri terhadap perkembangan dan tuntutan zaman tersebut dengan membuat Departemen Perguruan Tinggi yang khusus mewadahi kalangan mahasiswa.

Namun departemen ini kemudian mengurai dan menjadi organisasi sendiri yang diberi nama Pergerakan Mahasasiwa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 1960.

Penguraian PMII dari tubuh IPNU ternyata membawa dampak yang beragam bagi kader IPNU. Betapa tidak, aktifis IPNU yang dulunya sangat loyal terhadap organisasi, kemudian harus terputus secara organisatoris setelah melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebab mereka tidak mendapati IPNU untuk mendayagunakan estafet pengabdiannya terhadap NU.

Kalaupun ada organisasi yang “beridiologi” NU tetapi manhaj pergerakannya tidak berkenan bagi sebagian generasi NU.  Sementara itu, IPNU masih tetap berkutat di lingkungannya yang lama, yaitu di kampung—sehingga terkesan kampungan—dan  sekolah (pelajar). Akhirnya, generasi NU yang berada di perguruan tinggi mengalami kegalauan organisatoris.

Sebenarnya jika hanya sebagai pengembangan potensi manajemen bagi kader IPNU, di kampus banyak sekali organisasi-organisasi dengan beragam corak dan pola gerakan, baik yang bersifat intra atau ekstra kampus. Untuk organisasi intra lebih mengedepankan presatasi dan kreatifitas serta keilmuan, sedangkan organisasi ekstra lebih pada organisasi pergerakan yang cenderung bersifat politis, baik di lingkungan kampus atau di tingkatan yang lebih luas. Perebutan kekuasaan menjadi target utama organisasi ekstra. Bahkan tidak jarang organisasi-organisasi tersebut menjadi corong politik dari kepentingan yang lebih besar, yaitu dalam skala nasional.

Kondisi akademik yang semacam ini sangatlah tidak sesuai dengan karakter kader. Hal ini melahirkan kebimbangan dalam menentukan organisasi yang akan dipilihnya. Akhirnya mereka harus memilih dan memilah dengan proses seleksi yang amat ketat.

Sebagaimana dimaklumi, aktifis IPNU yang saat ini menjadi mahasiswa, mayoritas adalah anak-anak NU yang lahir dan tumbuh dilingkungan dengan sosio-kultural yang kental dengan nilai-nilai religius dengan manhaj ahlus sunnah wal jamaah. Mereka adalah putera-puteri pengasuh pesantren (Gus dan Ning), putera-puteri tokoh atau pengurus NU, putera-puteri guru agama atau tokoh yang di segani masyarakatnya. Secara ritual mereka menerapkan praktek keagamaan “versi NU”, sebagaimana orang tua mereka.

Secara ideologis memegang konsep Kalam Aswaja. Begitu pula pola pikir dan prilaku mereka masih “aman” dari sekularisme, liberalisme, hedonisme, materalisme, serta pergaulan bebas. Mereka masih kental dengan bentukan lingkungan di mana mereka tinggal dan menempuh pendidikan sebelumnya, utamanya bentukan lingkungan pesantren. Jadi mereka adalah generasi Islam yang konsis dengan penerapan ajaran Islam “NU” yang sudah terdoktrin sejak dini dan mengakar erat dalam lubuk kesadaran keber-agamaan mereka.

Lalu, setelah masuk ke perguruan tinggi mereka menemukan nuansa yang berbeda, yaitu nuansa kebebasan dan keberagamaan dari berbagai sisi. Kenyataan yang bertolak belakang ini membuat mereka “shock” dan seringkali “gegabah” dalam menentukan pilihan organisasinya sebagai estafet pengembangan potensi organisatorisnya. Dalam kondisi seperti ini memunculkan beberapa sikap atau prototip kader, 1) selektif terhadap realitas, 2) pasif dengan selaksa harap akan munculnya organisasi yang ideal, dan 3) acuh dan gegabah.

Untuk prototip pertama, dalam menentukan pilihan organisasinya lebih mengedepankan pendalaman visi misi. Walaupun di kampus tidak menjumpai IPNU, tetapi ia mampu mewarnainya dengan corak ritual-kultural yang kental tanpa terpengaruh idieologi organisasi yang dimasukinya. Ia merasa ”enjoy” dan tidak risih dengan nuansa sekitarnya yang—terkadang—bertolak belakang dengan idealismenya.

Prototipe kedua, cenderung pasif tetapi memiliki harapan besar akan lahirnya wadah yang lebih akomodatif terhadap karakteristik dan pola keorganisasiannya. Dalam harapannya, organisasi tersebut memiliki kesinambungan yang pararel dengan IPNU, baik secara emosional, doktrinal, ritual, atau idiologis. Kelompok ini tidak terpengaruh terhadap organisasi yang telah ada dan tidak berusaha untuk lebur di dalamnya.

Prototipe ketiga, gegabah dan cenderung acuh dan tak mau tau terhadap visi misi organisasi yang ada. Ia mudah terpengaruh oleh slogan-slogan, simbol yang bersifat idiologis, politis atau tawaran pola pergerakan dari organisasi yang ada. Kelompok ini mudah terjebak pada euphoria organisasi yang pada akhirnya akan mengabaikan jati dirinya sebagai “mantan” kader IPNU. Bahkan tak jarang di antara mereka kemudian apriori terhadap IPNU dengan mengklaimnya sebagai organisasi “kampungan” dan tidak laku di kalangan mahasiswa karena hanya akan menghambat laju kemajuan ilmu pengetahuan. Ironisnya, sikap ini muncul dari “mantan” kader yang dulunya militan terhadap IPNU, kacang lupa kulitnya.

Berdasarkan klasifikasi prototip kader di atas, maka lahirnya IPNU kampus—dalam hal ini penulis melihat lahirnya IPNU-IPPNU UIN Malang—diprakarsai oleh kelompok kedua yang didukung oleh kelompok pertama. Namun perlu juga dicatat, ada kelompok berikutnya yang menjadi support bagi lahirnya IPNU kampus, yaitu mahasiswa yang ingin mendalami NU lebih jauh dan mengabdikan dirinya kepada NU.

Kelompok ini—yang mana penulis juga termasuk dalam kelompok ini—terdiri dari mahasiswa yang lahir di lingkungan NU “ambigu”, dimana mereka menerima NU sebagai warisan instan. Sehingga mereka tidak menadapatkan pemahaman yang cukup tentang essensi NU dari keluarga dan lingkungannya. Maka munculnya organisasi NU, seperti IPNU adalah media potensial untuk mempelajari NU lebih mendalam bagi kelompok ini.

Semangat dan komitmen inilah kemudian terakumulasi dalam beberapa kesamaan persepsi tentang kondisi yang dihadapinya, yaitu:

Pertama, keprihatinan terhadap generasi NU di tengah arus kebebasan dan keberagaman pola keberagmaan dilingkungan mahasiswa. Kondisi ini mengancam tata ritualitas dan idiologis mereka.

Kedua, belum adanya wadah yang efektif dan “tulus” memperjuangkan nilai-nilai ke-NU-an di tingkatan mahasiswa, utamanya bagi mantan kader IPNU sebagai estafet pengabdian secara orgnisatioris terhadap NU. Kalaupun ada, tidak lebih dari kesamaan idiologis semata, namun tidak menyentuh ranah-ranah essensial secara garis perjuangan dan pola pergerakan.

Ketiga, marak dan menjamurnya aksi “Islam Kiri” dan “Islam Kanan” di lingkungan perguruan tinggi yang terpolarisasi dalam ideologi, organisasi, politik, pemikiran dan pergaulan. Munculnya kelompok ini mengancam pemahaman dan manhaj mahasiswa NU sebagai generasi yang tawâsuth (moderat), tasâmuh (toleran), tawâzun (proporsional), dan I’tidâl (konsekwen) sebagai manhaj dakwah Aswaja.

Keempat, semakin langkanya penggalian nilai-nilai spritualitas mahasiswa ditengah mega proyek pembangunan mental intelektualitas dan infra strutur akademik. Kondisi ini diperparah dengan semakin bebasnya gaya gaul mahasiswa yang mengarah pada dekadensi moral kelas akademik. Dan ini lebih berbahaya dari kebebasan oleh orang-orang non akademik.

Premis-premis inilah yang menggugah kesadaran generasi NU—yang sudah mengkristal dalam kesamaan persepsi—untuk merapatkan barisan guna menghadang laju kemerosotan moralitas, baik yang bersifat prilaku ataupun moral intelektualitas, serta upaya pemberangusan nilai-nilai luhur Islam. Maka seiring perputaran roda waktu, geliat tersebut akhirnya menggelembung dalam organ-organ taktis yang bertujuan untuk menciptakan wadah yang efektif bagi pemberdayaan generasi NU. Akhirnya muncullah nama-nama seperti IMANU (Ikatan Mahasiswa NU), FKMNU (Forum Komunikasi Mahasiswa NU), dan IPNU-IPPNU Kampus.

Dengan semangat dan komitmen yang tak jauh beda,  IMANU dan FKMNU mampu melenggang di beberapa perguruan tinggi dengan mengusung slogan Aswaja “murni”—tanpa adanya tendensi politik—sekaligus sebagai benteng pertahanan idiologi generasi NU. Namun keduanya tidak mampu menjalin akses massa yang lebih signifikan. Disamping adanya benturan-benturan organisatoris dengan organisasi yang sudah ada, juga disebabkan oleh belum adanya legalitas dari pusat (PBNU). Maka kemunculan IPNU kampus adalah alternatif yang sedikit lebih aman. Selain sudah tercantum sebagai Banom (badan otonom) NU, AD/ART IPNU juga mencantumkan IPNU perguruan tinggi sebagai ranting dengan sebutan pimpinan komisariat.

Sebenarnya, munculnya IPNU kampus bukanlah hal baru. Di beberapa “kampus NU”, IPNU sudah berdiri bahkan menjadi organisasi intra dan mendapat rekomendasi dari pihak birokrasi kampus. Namun untuk kampus “non NU”, kelahiran IPNU memerlukan perjuangan yang tidak enteng. Sebab IPNU adalah organisasi yang berafiliasi kepada NU, sementara di perguruan tinggi tidak semuanya respek terhadap NU, atau bisa jadi didominasi oleh orang-orang yang bertolak belakang dengan NU. Maka kehadiran IPNU di lingkungan perguruan tinggi “non NU” merupakan hasil perjuangan panjang para generasi NU yang memiliki komitmen besar untuk mendarmabaktikan dirinya kepada NU.

Permasalahan berikutnya adalah masalah nama. IPNU dengan kepanjangan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, dan IPPNU dengan kepanjangan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama, ternyata mengundang permasalahan yang cukup krusial bagi perkembangan IPNU di lingkungan kampus.

Kata pelajar identik dengan jenjang pendidikan pra kuliah, yaitu SD, SLTP, dan SMU atau yang sederajat. Sehingga bila label ini disandang oleh mahasiswa terasa risih, sepertinya akan mengembalikan identitas mereka pada masa-masa SMU. Konkritnya, kemunculan IPNU tidak lebih dari euforia masa lalu semasa masih pelajar untuk diterapkan di lingkungan perguruan tinggi, dan tentunya, mahasiswa yang bergabung adalah mereka yang masih kental dengan pola pikir dan prilaku pelajar yang sudah tidak layak pakai di lingkungan mahasiswa?! Atau bisa jadi, program yang ditawarkan adalah pola kerja kaum pelajar, bukan level mahasiswa?!

Permasalahan ini perlu diklarifikasi dengan detail dan jelas. Jika tidak, maka akan mengancam eksistensi dan keberlangsungan roda organisasi untuk turut berkiprah di wilayah perguruan tinggi. Akibatnya, kader-kader NU akan terjebak pada kubangan organisasi yang tidak akomodatif terhadap nilai-nilai luhur Aswaja.

Sebenarnya alasan-alasan kemunculan IPNU kampus yang telah dipaparkan di atas adalah pertimbangan penting mengapa IPNU harus lahir di wilayah perguruan tinggi. Lalu, ide awal kelahiran IPNU secara umum adalah wadah pemersatu potensi pelajar, santri, dan mahasiswa. Berarti kata pelajar tidak hanya berorientasi pada kalangan siswa, tetapi santri dan mahasiswa. Maka terlalu gegabah dan “emosional” apabila mengklaim bahwa IPNU hanya milik pelajar atau siswa.

Tulisan ini bukanlah merupakan pledoi organisasi yang menjanjikan penerapan Islam sebagai manhaj berpikir, bertindak penulis terhadap IPNU kampus, tetapi untuk mendudukkan permasalahan secara proporsional sehingga menciptakan iklim yang lebih dewasa dan bersabahat. Menurut penulis, ukuran layak dan tidaknya sebuah organisasi di suatu wilayah tidak hanya diukur dari nama, simbol, atau logo semata. Tetapi sejauh mana organisasi tersebut memberikan konstribusi yang berarti bagi lingkungan di mana ia berada.

Banyak dijumpai organisasi yang dengan bangga mengusung simbol-simbol kelompok Islam tertentu, tetapi hanya sebagai kedok untuk menggaet anggota sebanyak-banyaknya. Toh ketika ditelusuri, manhaj pergerakannya tidak berlandaskan pada nilai-nilai Islam, justru menjadi agen pelunturan pemahaman Islam. Pun juga dijumpai dan bersikap. Tetapi didalamnya bukanlah memahami ajaran Islam yang komprehensif, tetapi pemahaman Islam yang parsial. Atau justru menyeret anggota pada kepentingan politik praktis, bukan lagi pemberdayaan akademik. Jadi kebesaran nama bukanlah jaminan kualitas sebuah organisasi!

IPNU kampus sebagai organisasi “pelajar” yang hadir di tengah mahasiswa bukanlah wujud organisasi yang excellent tanpa cacat. Tetapi organisasi ini merasa turut memiliki kans besar untuk mewarnai peran mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) bagi masyarakat. IPNU hadir tidak dengan konsep-konsep yang melangit dan eksklusif, tetapi mengedepankan visi-misi sosio-kultural sehingga mudah diterima oleh masyarakat.

Pola kebijakan yang “populis dinamis” menjadi ciri khas arah gerak organisasi. Dengan demikian mahasiswa akan mudah mengakses informasi dari dan kepada masyarakat, baik yang bersifat ilmiah ataupun menyangkut hajat publik. Sebab bagaimanapun juga, IPNU yang merupakan underground NU, telah memiliki ikatan iemosional yang cukup erat dengan masyarakat disbanding organisasi mahasiswa yang lainnya.

Untuk wilayah intern kampus, IPNU kampus akan menjadi penyeimbang antara idealisme mahasiswa—yang sering kali diusung oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan yang ada—dengan fakta sosial. IPNU juga menjadi mediator mahasiswa dalam proses pencerahan moral spiritual dengan menggunakan metodologi akademik sebagai instrument pencarian kebenaran yang bersifat transendent atau kebernaran ilmiah.

Lalu, apabila semangat ini sudah menjadi komitmen kuat para penggagas dan kader IPNU kampus, masihkah perlu “ngotot” mempertanyakan relevensai “pelajar” dalam kiprahnya di tengah mahasiswa? Jangan-jangan mereka adalah kelompok yang juga masih belum menemukan jati dirinya, sehingga usil dengan kelompok lain?! Atau memang tugasnya hanya mempermasalahkan nama dari pada menata langkah-langkah taktis demi pemberdayaan mahasiswa dan masyarakat?!

Selanjutnya, saatnya IPNU kampus bangkit dan menunjukkan eksistensinya dengan membingkai arah perjuangannya sesuai tuntutan ruang dan waktu. Program dan kebijakannya harus seimbang, antara kepentingan kader yang nota bene mahasiswa dengan tuntutan masyarakat di luar kampus. Kader IPNU haruslah memiliki kepekaan tinggi terhadap perkembangan dan kondisi yang melingkupinya. Sehingga mampu tampil sebagai sosok aktifis yang elegan dan tidak mudah terjebak pada ranjau-ranjau politik praktis yang justru akan mengancam keberlangsungan organsasi.

Terakhir, semangat dan komitmen bersama ini akan semakin lestari apabila didukung oleh infra struktur organisasi yang kuat serta bangunan relasi yang luas. Peran IPNU di tingkat atas (cabang, wilayah atau pusat) sangatlah berarti untuk mempertegas peran IPNU di tataran mahasiswa. Setidaknya sebagai relasi untuk merumuskan arah pergerakan yang efektif. Jika tidak, maka kader IPNU akan kembali kepada posisi semula, yaitu netral dari arus organisasi, atau justru akan membuat organisasi lain yang bebas dari keterikatan dengan infra struktur yang manapun. Hal ini karena tidak adanya perhatian dan pengayoman yang serius dari atas.

Oleh:Bang Oemar (PEMBINA IPNU-IPPNU UIN MALIKI MALANG)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: